Setelah istirahat kurang lebih 1 bulan, dan kebetulan saat peliputan ini. Media - media besar sedang menyoroti kerjaan - kerjaan baru yang bermunculan. Bukan karena dasar itulah yang membuat kami mencoba datang di Binangun Mudal, Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo untuk bertemu dengan masyarakat desa setempat yang sedang disibukan dengan gotong royong membangun jalan. Kami masih merasa bingung, apakah benar didesa ini terdapat masyarakat adat atau masyarakat penghayat kepercayaan. Pasalnya disetiap idul fitri, desa ini selalu ramai dikunjungi media - media nasional, untuk meliput kegiatan aboge di hari raya idul fitri didesa ini. Surman, salah satu warga yang ikut gotong royong membangun jalan didesa tersebut. Ternyata dahulunya belum mengikut aboge, namun kini ia telah ikut aboge. Kamipun bertemu dengan, SARNO KUSNANDAR. Orang yang dianggap oleh pengikutnya banyak mengerti soal aboge, atau biasa disebut sesepuh aboge. Menurutnya Aboge sendiri tidak terdapat ketua. Namun sampai saat ini masih banyak orang yang mengikut aboge. Sejak lahir Sarno kusnandar yang akrab dipanggil Kusnandar itu sudah langsung ikut aboge, pasalany orang tuanya dahulu juga aboge. Hal tersebutlah membuat, Sarno sejak kecil hingga saat ini, masih terus melestarikan.
Meski sudah banyak yang tidak mengetahui aboge secara lebih jelas, ia tetap menjaga agar budaya yang sudah ada, jangan sampai punah dan masih diteruksan oleh para penerusnya. Meski kokoh ingin melestarikannya, ia tidak pernah sesekali mengajak orang untuk ikut aboge. Kini, para penganut aboge sering datang kepadanya untuk belajar soal aboge. Ia juga menjelaskan kepada kami bahwa aboge, bukan kepercayaan, bukan agama, namun aboge pada zaman dulunya diartikan pada penentuan perhitungan penanggalan jawa.Meski kini banyak yang mengikut aboge di Wonosobo, artinya mereka juga termasuk warga negara Indonesia yang memiliki kartu identitas atau biasa disebut Kartu Tanda Penduduk. Namun ternyata KTP pada masyarakat aboge menjadi hal yang sedikit memiliki permasalahan. Menurut Kusnandar pada pembuatan KTP, masih sama dengan warga pada umumnya yakni masih memasukan agama didalamnya. Akan tetapi menurutnya, terdapat paguyuban yang sudah tidak lagi memasukan agama didalam KTP, padahal pada peraturan undang - undang no 23 tahun 2006 pada kolom agama kosongi. Dahulunya ia pernah mengurusnya, berdasar pada peraturan pemerintah no 37 tahun 2007. Ia menginginkan adanya perubahan pada KTP, dari yang semula terdapat agama, ia akan menggosongi. Tetapi, begitu ia sampai kantor kecamatan, petugas yang mengurus pembuatan KTP mengatakan, bahwa komputernya belum di program.
Belum bisanya merubah kolom agama menjadi kolom kepercayaan, menurutnya tidak begitu penting tapi yang lebih penting bagaiamana ia penghayatannya kepada tuhan yang maha esa. Penganut penghayat kepercayaan ini, menurutnya pada zaman dahulu, warga setempat penganut aboge juga beragama islam. Artinya agamanya islam, namun penanggalannya aboge. Mereka melaksanakan sholat secara islam, namun pada saat idul fitri penanggalannya mengikuti penanggalan aboge. Tetapi menurutnya, setelah dirasakan Kusnandar tidak merasa enak, akhirnya ia memutuskan untuk melestarikan kejawennya sebagai penganut atau penghayat kepercayaan. Selain itu, aboge mewajibkan setiap pukul tujuh malam untuk manembah atau menyembah wajib. Akan tetapi, pada waktu - waktu ganjil menurutnya merupakan waktu yang sunah untuk melakukan panyembahan. Setiap tanggal 1 suro, disetiap tahunnya mereka memperingati tahun baru dan pada memoment itulah mereka merasa bersyukur telah sampai pada tahun yang baru. Selain itu, para penganut penghayat kepercayaan, setiap tanggal 1 syawal menurut perhitungan aboge mereka selalu mengadakan kegiatan bersemedi bersama pada malam 1 syawal. Hal tersebut dianggapnya sebagai bentuk meminta berkah kepada gusti dan mendoakan para sesepuhnya yang telah tiada agar diterima disiinya serta dapat diberikan tuntunan dikehidupan berikutnya.
Ia juga menanggapi terkait dengan bumi saat ini. Menurutnya manusia seharus menganggap bahwa bumi adalah tubuhnya manusia itu sendiri. Maka dari itu, menurut penghayat kepercayaan walaupaun bumi sebesar ini adalah sumber bekal untuk hidup dibumi itu sendiri. Hal tersebut juga dikatakan oleh sesepuh dahulu kala yang mengatakan, welas asiho marang sak pada - padane urip, artinya belas kasihlah kepada sesama makhluk hidup. Seperti belas kasih kepada sesama manusia, kepada hewan, kepada tumbuhan, dan kepada bumi. Hal itulah yang seharusnya, semua harus belas kasihi dan dirasakan. Artinya manusia harus bisa menjadi utusannya Allah dan berbelas asih kepada seluruh ciptaanya Allah.
Program - program yang sudah dijalankan oleh pemerintah seperti hutan lindung tidak sepatutunya untuk dirusak. Selain itu, pada sektor pertanian menurutnya sudah berbeda dengan cara merawat tanah pertaniannya, dahulunya ketika mengerjakan tanah pertanian, tanah yang akan ditanami seharusnya didatarkan terlebih dahulu dan diberikan jalan air supaya air hujan yang datang nantinya dapat meresap ke tanah. Sehingga dapat menjadi sumber mata air, dikemudian hari. Persoalan memotong bambu contohnya, menurutnya tidak diperbolehkan sembarangan apabila bambu tersebut akan digunakan sebagai bahan membangun rumah dan sebagainya. Seharusnya sebelum motong bambu dianjurkan untuk menggunakan perhitungan yang benar. Seperti contoh bambu yang ada dirumahnya, yang kini berumur kurang lebih 20 tahun.
Tradisi guyub rukun dan gotong royong menjadi hal yang paling utama untuk hidup bersama di masyarakat dalam berbagai bidang. Seperti halnya, saat kami temui dilokasi yang secara kebetulan sedang membangun akses jalan. Ternyata juga tidak dihari - hari yang sembarangan. Tidak boleh asal membangun apapun diwaktu yang belum diperhitungkan. Seperti contohnya akan membangun rumah, dilarang membangunnya pada tahun - tahun wawu akan tetapi tetap diperbolehkan apabila itu hanya memperbaiki rumah. Selain itu, ia juga mengatakan terkait dengan perhatian pemerintah terhadap masyarakat aboge. Menurutnya pemerintah saat ini tidak melarang adanya keberadaan pelestarian aboge, pasalnya aboge tidak ada kegiatan - kegitan yang merugikan. Namun, aboge melihat pemerintah telah melindungi dan tidak melarang serta tidak mendorong aboge agar ada kemajuan. Kusnandar berharap, seharusnya saat aboge ada kegiatan - kegiatan adat atau kegiatan pelestarian kebudayaan yang menggunakan biaya, pemerintah dapat memberikan bantuan. Namun menurutnya apabila tidak bisa membantu, juga tidak dipermasalahkan. Masyarakat aboge sendiri ternyata, juga sering melakukan perkumpulan dengan organisasi - organisasi lintas agama untuk membahas hal - hal yang seperlunya, namun untuk urusan agama. Tidak sama sekali dibahas, karena menurutnya kepercayaan harus dilakukan oleh sendiri - sendiri namun harus tetap saling menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat manusia.
Komentar
Posting Komentar